Tragedi Kanjuruhan dan Rasaku

Teman-teman yang hobi scroll reels Instagram, feed TikTok, SnackVideo dan sejenisnya pasti pernah menjumpai transisi aplikasi yang bikin kepala nyut-nyutan. Seperti itulah yang kualami saat searching tentang peristiwa kelam yang terjadi belum lama ini, tragedi Kanjuruhan.

Konten yang mengangkat topik Kanjuruhan bukan lagi berseliweran tapi sudah berkelebatan, mirip transisi aplikasi yang bikin ngelu (pusing) bagi yang punya kecenderungan vertigo. Banjir animo para pembuat konten berujung pada maraknya kesimpangsiuran informasi. Faktor timing dalam mengunggah berita, upaya mendongkrak reads and views dan mengeruk cuan membuat elemen check and recheck meluncur ke urutan bawah. Walau tak bisa dipukul rata, harus diakui banyak sekali yang berlomba mengunggah berita tanpa mengacu pada sumber yang terpercaya. Akibatnya? Opini-opini prematur bergulir liar. Belum lagi kecaman dan pembelaan –komplet dengan aksesori umpatan– meluncur deras dari pihak-pihak yang pro-kontra.

Sampai di situ aku memutuskan untuk jeda. Otakku terengah-engah mengikuti informasi yang makin ke sini makin melesat ke sana kemari. Dan kurasa, aku perlu membetulkan hati … sebab kesedihan dan keterpukulan yang awalnya begitu mengguncang mulai tergiring menuju kegusaran. Ya, kegusaran perihal pemakaian gas air mata, ketidaksiapan panitia pelaksana, ketidakdisiplinan sebagian penonton, sampai pada kesimpangsiuran laporan jumlah korban.

Aku tidak ingin kehilangan rasa di tengah hiruk-pikuk pemberitaan tragedi Kanjuruhan. Sederhananya, entah jumlah korban 127-129 seperti berita semula, atau 125 seperti siaran Divisi Humas Polri, atau 131 seperti kata Ibu Khofifah Indar Parawansa dan Pak Jokowi di berita terkini, aku tidak berniat mendebat atau mengecam kesimpangsiurannya. Begitu juga soal gas air mata dan yang lainnya. Tentu aku punya pendapat pribadi dan argumen-argumen yang mendekati titik didih, tetapi untuk saat ini, aku sedang butuh menghayati perasaan mana yang harus kudahulukan.

Mengalami betapa rentannya emosi digiring ke sana kemari oleh konten yang berwarna-warni, aku punya harapan. Harapanku sederhana saja, meski proses untuk mewujudkannya amat jauh dari kata sederhana. Aku ingin membaca, mendengar dan menonton konten yang bisa dipercaya. Kalaupun ada info yang kadang meleset, kuharap bukan karena diawali dengan mentalitas “asal” –asal cepat, asal viral, asal mereguk keuntungan.

Semoga tragedi Kanjuruhan ini dihayati sebagai momen kelam yang mendesak bangsa kita untuk cepat-cepat berbenah. Dan bagi yang berlimpah waktu serta kuota untuk debat kusir dan menebar umpatan di sana-sini, mending energinya dipakai untuk menulis di blog atau membuat konten yang bermanfaat. Kita bisa beropini, berargumentasi, menawarkan solusi, juga mengedukasi. Semoga ke depannya dalam segala hal Indonesia bisa lebih baik lagi.

(Sumber foto dari cnnindonesia.com)

Iklan

Terima kasih telah berkunjung dan menyempatkan waktu untuk berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s