Masih Mau VIRAL?

Sampai sekarang tips membuat konten viral masih menjadi never-ending topic di berbagai platform media sosial. Kuperhatikan kiat-kiat itu secara garis besar mirip satu sama lain. Yang membedakannya adalah sejumlah variasi dari sudut pandang para penulisnya. Berhubung dalam tiga bulan terakhir ini aku secara teratur mengunjungi Instagram dan TikTok, jadi obrolan kali ini berangkat dari apa yang kulihat di sana.

Kalau ditilik dari menjamurnya tips membuat reel dan carousel viral di Instagram serta konten viral di TikTok, bisa disimpulkan bahwa banyak sekali orang yang menaruh minat pada topik itu. Wajar sih, sebab itu berkaitan erat dengan ketenaran, meningkatnya jumlah pengikut dan engagement, serta membuka peluang untuk mendulang uang. Siapa yang gak tergiur? Ya ada juga sih, tapi jarang sekali, kan?

Yang menarik perhatianku adalah, ternyata gak semua konten viral itu berfaedah (subjektif sih) dan gak semua pemilik konten viral itu menginginkan demikian. Sebelum ngobrol lebih lanjut soal itu, aku mau mengelompokkan dulu jenis unggahan yang menjadi viral di kedua platform itu. Kelompok pertama yaitu unggahan konten entertainment, kuliner, travelling, pembinaan iman, edukasi, dan kawan-kawan. Tidak mengejutkan bagiku sebab wajarlah orang menggandrungi hal-hal yang bermanfaat bagi mereka. Lanjut ke kelompok kedua. Nah, kelompok inilah yang membuatku cukup ehem karena dihuni oleh konten-konten viral yang berupa musibah, pertikaian, perjulidan, dan rombongannya. Dan menurut pengamatan subjektifku, di TikTok lebih marak sih –peace buat para penggemar TikTok.

Di awal aku bikin akun Tiktok, sekitar akhir Juli 2022 (seriously???), itu feed kan masih random tuh. Dari waktu ke waktu aku dibikin takjub dengan munculnya wajah-wajah a la baru bangun tidur dan langsung klarifikasi unggahan sebelumnya yang viral tak terduga lantaran menuai pro-kontra. Ada juga video stitch yang jadi viral karena jadi ajang pelampiasan emosi (bukan berarti stitch gak ada yang mengedukasi lho). Belum lagi merebaknya fenomena konten viral sekelas “kamu yang di_____, aku yang di______” yang auto panen hujatan. Atau kasus liburan seorang ibu paruh baya yang sadly jadi heboh karena outfit pantainya di-zoom dan diviralkan orang dengan sound yang bernada melecehkan.

Jadi sebenarnya viral itu tidak selalu sekeren yang kita bayangkan. Ada yang positif, ada juga yang merepotkan, bahkan merugikan. Itu mengingatkanku akan ungkapan “Be careful what you wish for.” Hati-hati dengan apa yang kauharapkan. Jangan sampai keviralan yang kita harapkan justru datang dalam bentuk yang tak diinginkan.

Kalau ditanya apakah masih mau punya konten yang viral, aku sih mau saja. Berhati-hati, terus berkarya dan tak henti belajar, itu yang kuupayakan. Kalau kalian bagaimana? Masih mau viral?

Iklan

Terima kasih telah berkunjung dan menyempatkan waktu untuk berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s