Taruhlah hatimu di hatiku

Taruhlah Hatimu di Hatiku

Aku janji
tuk berhenti mencintaimu
bila kautaruh hatimu
selain di hatiku

Bukan letih
menanti sadarmu
ada makhluk bernama aku

Bukan jemu
mendambamu
tanpa ujung

Aku akan berhenti
sebab akuย punya hati

Meski katanya
cinta itu buta
Namun hatiku
masih punya mata

Aku tak pandai mengungkapkan isi hati. Ini adalah puisi pertama yang kubuat di luar tugas Bahasa Indonesia. Meluber begitu saja lewat tinta biru dari bolpoinku. Aku ingin bicara sama kamu, tanpa harus bertemu.

Kamu itu segalanya yang kumau. Tatap matamu. Nada bicaramu. Caramu menyibak rambutmu. Bahkan gayamu mencangklong ranselmu. Aku suka.

Semua yang kulihat darimu bagus di mataku. Semua yang kudengar tentangmu sedap di telingaku. Aku suka melihat keramahanmu pada petugas kebersihan sekolah. Kagum dengan kesediaanmu memakai gadget yang bukan keluaran terbaru. Takjub dengan sepeda yang kaukayuh ke sekolah sementara saudara-saudara kandungmu keluar masuk pintu mobil dilayani oleh sopir.

Aku terpana kala kamu melesat ke koperasi sekolah demi membeli obat gosok ketika kakiku terkilir sewaktu pelajaran olah raga. Padahal kamu hanyalah seorang kakak kelas yang tak sengaja melintas di lapangan saat itu. Mengenalku pun tidak. Ahh. Kalau saja aku bisa terkilir setiap kali kamu melintas di depanku ….

Aku tak pernah berani mendekatimu. Kamu terlalu sempurna. Aku bahkan sudah melayang-layang tak terkendali tiap kali kita berpapasan di lorong sekolah dan melihat senyummu yang beken itu. Ahh.

Kadang aku bertanya di lamunku, adakah kauingat aku? Adik kelas yang kebetulan terkilir dan menerima hangatnya perhatianmu? Pernahkah kautahu siapa namaku? Di mana kelasku?

Tanya demi tanya menyesaki batinku. Pertanyaan yang tak pernah terlontar. Dan tak pernah terjawab. Aku pun harus cukup puas mengagumimu dari sini. Tanpa berani beringsut mendekat.

Sampai akhir-akhir ini sebuah nama bergaung di seantero sekolah. Nama murid baru peserta MOS termanis tahun ini. Nama yang begitu gencar dikaitkan denganmu.

Aku terkulai. Nyaris patah. Ingin menutup telinga tapi kabar itu tajam menembus. Ingin menutup mata namun dikhianati rasa ingin tahu. Aku bergolak hebat. Dan kamu tak tahu menahu.

Sebelum semuanya terlajur jauh. Aku dan serpih-serpih hatiku. Kamu dan ketidaktahuanmu. Kuputuskan untuk mengungkapkannya padamu. Aku dan perasaanku.

Jauh di lubuk hatiku, kuharap setidaknya kauingat siapa aku. Jauh di lubuk hatiku, kumohon pada Tuhan agar hatimu masih utuh bersamamu. Sungguh … aku memohon begitu.

Dan bila ternyata harapanku harus terbanting pecah … aku berjanji, aku akan berhenti mencintaimu. Bukan karena cintaku dangkal. Tapi karena aku perempuan.

Selama hatimu masih utuh milikmu, aku akan setia mendamba. Namun bila telah kautaruh hatimu selain di hatiku … aku berjanji, aku akan berhenti mencintaimu. Aku ingin kaumencinta seutuhnya. Tak ingin menebar serpihan luka yang akan menyakiti dia ….

Aku tak bisa menulis lagi. Nanti kertas ini bisa meleleh ditimpa air yang menetes bertubi-tubi. Satu hal yang ingin sekali kutahu … adakah kau pernah mengingatku? Masih mungkinkah kautaruh hatimu di hatiku?

Dari seorang adik kelas yang berharap kakinya terkilir tiap kali jumpa kamu

Lomba surat secret admirer, evylia hardy blog

(Tulisan ini diikutkan dalam kuis Bentang Pustaka, Surat Cinta Secret Admirer. Sumber gambar cover Caramel Macchiato dari wattpad.com)

Iklan

9 thoughts on “Taruhlah Hatimu di Hatiku

  1. Lidha Maul

    dan pagi itu begitu menggoyahkan langkahku, aku nyaris lupa rasa mengayuh sepeda.
    Mau saja berguncang di dalam sebuah mobil ditemani riak-riak jenaka para saudara.
    Aku tak tahu lagi dimana ranselku berada, atau senyum sapa untuk bapak petugas kebersihan.
    Ya, aku tak tahu. Tak tahu mengapa namaku dikaitkan dengannya. Aku tak mau dan tak mau tahu. Aku ingin beringsut dan menjauh.
    Karena aku hanya ingin kamu, ya kamu. Seseorang dengan kaki terkilir.
    Seseorang yang mungkin tak akan mengingatku dan seoles obat yang pernah kuberi.
    Apa kau tahu aku menatapmu di kejauhan? apa kau tahu aku melayang-layang tak terkendali saat kita berpapasan? dan susah sekali untuk tak bahagia dalam detik-detik itu?
    Ya kau mungkin tak tahu, bahwa aku ingin menaruh hatiku di hatimu.

    (semoga menang ya mbak. sori numpang jejaknya kepanjangan nih ๐Ÿ˜€ )

    Suka

    • evylia hardy

      Suratku dibalas *surprised lonjak-lonjak … balasannya panjang n manis lagi
      Serasa jumpa soulmate ๐Ÿ™‚

      Makasih doanya, mbak Lidha Maul :), ini memacu diri berfiksi lagi lewat lomba anak muda *tutupin muka

      Suka

Terima kasih telah berkunjung dan menyempatkan waktu untuk berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s